Esai · Refleksi

Terjebak dalam Mimpi

Kenyataan hidup baru terlihat ketika manusia sungguh-sungguh “bangun” dari tidurnya.

Kejadian amuk massa di bulan Agustus 2025, sesaat setelah pesta kemerdekaan ke-80, seolah menjadi cermin getir bangsa. Peristiwa yang berawal dari arogansi pemimpin dan aparat, berujung pada ledakan emosi rakyat yang lama terpendam. Harapan tentang masa depan yang tenang dan adil mendadak membeku. Sejenak, bayangan Indonesia Emas 2045 — yang selalu digemakan dalam pidato dan visi besar — terlihat rapuh, seperti kaca retak yang mudah hancur bila disentuh.

Kita harus bertanya pada diri: apakah semua mimpi itu sungguh kita persiapkan dengan kerja keras dan perubahan karakter, ataukah sekadar menjadi fatamorgana — indah dari kejauhan, rapuh ketika didekati? Mimpi tanpa pijakan akan menjadi fatamorgana. Bangsa ini sering terjebak dalam paradoks: semakin tinggi ambisi diumandangkan, semakin lemah langkah kecil yang harus ditempuh. Kita pandai membuat rencana jangka panjang, tetapi lalai dalam konsistensi sehari-hari. Lebih pahit lagi, kita kerap ikut menyumbang kerusakan — salah memilih pemimpin karena terbuai janji manis, dan memilih diam ketika tanda-tanda kerusakan muncul. Padahal kerusakan penguasa tidak pernah lahir dari ruang hampa; ia tumbuh subur karena rakyat membiarkannya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra‘d : 11

Perubahan bangsa bukan datang dari mimpi besar yang diucapkan berulang, melainkan dari perbaikan karakter setiap warganya.

Fantasi yang Rasional

Fantasi pada dasarnya wajar. Ia tanda jiwa masih hidup, masih ingin berkembang. Namun fantasi harus dijaga agar tetap rasional — berpijak pada kenyataan, dipandu logika, dan disertai usaha nyata. Kita boleh menatap jauh ke cakrawala, tetapi kaki harus menapak bumi. Di sinilah perbedaan antara visi dan angan-angan kosong: visi memberi arah dan energi, sementara angan hanya membius dengan rasa senang semu.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
QS. Āli ‘Imrān : 185

Pelajaran dari Kisah Qur’ani

Sejarah iman mengajarkan bahwa mimpi besar hanya berarti bila diwujudkan dengan pengorbanan. Ashabul Kahfi bermimpi menjaga iman mereka di tengah tirani; mereka tidak berhenti pada angan, tetapi berani meninggalkan kenyamanan demi kebenaran (QS. Al-Kahfi: 13). Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam memimpikan masa depan tauhid; mimpi itu diwujudkan dengan keberanian nyata, bahkan kesediaan mengorbankan anaknya sebagai ujian ketaatan (QS. As-Saffat: 102–105). Keduanya menunjukkan bahwa mimpi mulia hanya hidup bila dipadukan dengan iman, kesabaran, dan konsistensi amal.

Diam yang Membunuh

Bangsa ini tidak hanya sakit karena pemimpinnya. Kita pun ikut menyumbang penyakit: salah memilih karena terbuai janji, memilih diam ketika kerusakan mulai tampak, menunda memperbaiki diri. Diam dalam menghadapi kerusakan adalah bentuk persetujuan terselubung. Padahal Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar — menegakkan kebenaran dan mencegah keburukan. Bila kita hanya berdiam, maka kita bukan sekadar korban, melainkan bagian dari penyebab keruntuhan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas.”
HR. Bukhari & Muslim
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”
QS. Al-Kahfi : 107

Dari Fatamorgana ke Cahaya

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan. Bisa jadi fatamorgana bila hanya dibiarkan sebagai mimpi, tetapi akan menjadi cahaya bila dibangun dengan kesungguhan. Mimpi adalah bahan bakar — namun bahan bakar butuh mesin: amal nyata, disiplin, keberanian moral, dan perbaikan karakter. Bila kita berani jujur, banyak kerusakan pemimpin lahir dari kontribusi kita: salah memilih, salah menilai, salah bersikap. Karena itu, jalan keluar hanya satu: mulai dari diri sendiri — melatih kesungguhan, membiasakan kejujuran, berani menegakkan kebenaran, dan berpegang teguh pada nilai Ilahi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan (menidurkan) kami, dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali.”
HR. Bukhari

Islam mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam mimpi. Setiap kali kita bangun tidur, kita diajak bersyukur ketika kita “bangun” dari mimpi. Karena kenyataan hidup baru terlihat, ketika manusia sungguh-sungguh “bangun” dari tidurnya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb
← Kembali ke kumpulan esai