Catatan tausiah subuh di Masjid Kampung Maghfirah, kaki Gunung Salak.
Di pagi yang sejuk, saat kabut masih menyelimuti kaki Gunung Salak, dan embun menetes perlahan di dedaunan Kampung Caringin, Bogor — Masjid Kampung Maghfirah menjadi saksi sebuah majelis ilmu. Dalam hening subuh yang penuh keberkahan itu, hadir seorang ulama dunia, Dr. Yahya Ibrahim A. Al-Yahya dari Arab Saudi, seorang alim yang aktif mengajar dan menjadi anggota dewan di Al-Madinah International University (MEDIU). Dengan suara teduh yang menusuk hati, beliau menyampaikan tausiah yang bukan sekadar kata-kata, melainkan getaran iman yang membangunkan jiwa.
Seakan-akan waktu berhenti sejenak. Jamaah larut dalam pesan yang begitu dalam: bahwa hidup ini adalah perjalanan yang penuh pilihan, dan setiap langkah kita menentukan apakah kita termasuk ke dalam golongan surga atau golongan neraka. Allah SWT telah menggambarkan dua jalan itu dengan jelas:
Ayat ini menjadi titik tolak tausiah beliau — mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah ruang abu-abu, melainkan hitam atau putih. Antara cahaya dan kegelapan. Antara jalan menuju Allah atau jalan menjauhi-Nya.
Syeikh Yahya menegaskan, golongan pertama adalah mereka yang hatinya hanya terpaut pada dunia. Mereka tenggelam dalam urusan dunia, membicarakan dunia, berdebat tentang dunia. Jika kita duduk bersama mereka, hati kita menjadi berat, pikiran kita semakin jauh dari Allah.
Sebaliknya, golongan kedua adalah mereka yang hidupnya selalu bersama Allah. Mereka berdoa di pagi dan sore, menyebut nama-Nya dengan tulus, meskipun hidup mereka sederhana. Justru kesederhanaan itulah yang membuat hati mereka bercahaya.
Tanda mereka jelas: ketika engkau melihat wajah mereka, hatimu teringat pada Allah.
Mengapa mereka yang lalai tampak begitu kuat dan berkuasa? Mengapa mereka menguasai harta, jabatan, dan pengaruh? Itu bukan tanda kemuliaan, melainkan ujian.
Kekuatan mereka bukan untuk diikuti, melainkan untuk menguji: mampukah orang beriman tetap istiqamah bersama golongan orang saleh, ataukah tergoda untuk berpaling karena silau dunia?
Syeikh Yahya menuturkan, “Surga akhirat tidak akan bisa dimasuki oleh orang yang tidak mengenal surga dunia.” Surga dunia bukanlah rumah megah atau tumpukan harta. Surga dunia adalah ketentraman jiwa yang lahir dari ketaatan dan zikir kepada Allah.
Maka duduk bersama orang saleh, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menziarahi karena Allah — itulah bagian dari surga dunia. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis Qudsi:
Ada dua tanda yang mudah dikenali. Orang saleh: ketika melihatnya, hatimu langsung teringat Allah. Orang lalai: ketika bertemu mereka, pikiranmu langsung tertuju pada dunia.
Maka, berhati-hatilah dengan siapa engkau duduk dan berjalan. Karena teman perjalanan akan menentukan arah langkah akhir kita.
Dalam urusan infak, orang lalai berkata: “Jangan buru-buru. Itu buang-buang uang. Nanti saja.” Namun Allah SWT memperingatkan:
Sedangkan orang saleh akan mendorong: “Segeralah berinfak, jangan tunda. Bisa jadi esok engkau tak lagi diberi kesempatan.” Syeikh Yahya juga menyinggung profesi seorang dokter. Orang lalai akan berkata: “Cukuplah engkau mengobati pasienmu, tak perlu menambahinya dengan nasihat agama.” Padahal, seorang dokter muslim bisa dengan mudah mendapatkan pahala besar hanya dengan satu kalimat: “Jangan lupakan shalat, perbanyak doa. Allah Maha Penyembuh.”
Mengapa Allah memerintahkan kesabaran? Karena orang-orang saleh seringkali hidup dalam kesederhanaan, tanpa gemerlap dunia. Tetapi justru di situlah keselamatan berada.
Kesabaran itu bukan lahir dari kekuatan kita semata. Ia adalah karunia Allah. Maka mintalah pada-Nya tambahan kesabaran.
Dunia hanyalah perjalanan singkat. Jangan biarkan kita tertipu oleh gemerlapnya. Surga akhirat hanya akan terbuka bagi mereka yang telah mencicipi surga dunia: ketenangan jiwa karena taat dan mengingat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim). Maka janganlah menjadikan dunia sebagai surga palsu — jadikanlah ia sebagai ladang amal, agar kelak Allah izinkan kita memasuki surga yang abadi.