Ketika sepiring kenangan menjadi jalan menuju ridha Allah.
Ada yang tidak biasa dari sepiring pecel kembang turi. Karena ia membawa sesuatu yang tak kasat mata — sebuah “sihir” yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah mencintai dan kehilangan.
Malam itu, istri menyiapkan sesuatu yang tidak biasa. Pecel… dengan kembang turi. Bukan menu yang rutin hadir di rumah. Namun ia hadir di meja makan tidak hanya mengingatkan kenangan lama lebih dari sepuluh tahun lalu, tetapi juga menyisakan sebuah pesan yang belum selesai.
Sebuah perjalanan kecil yang tidak direncanakan matang. Hanya satu dorongan sederhana: ibunda — yang kami panggil Yangtie — ingin makan pecel, dengan kembang turi. Tidak banyak tempat yang menyediakan, tapi kami berupaya mencarinya. Berbekal informasi singkat dan waktu yang terbatas, kami berangkat menuju Pecel Pincuk Bu Ida di Cibubur — sekitar 20 kilometer dari rumah.
Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, memori itu membangkitkan bayangan bagaimana perasaan ibunda saat itu. Pecel kembang turi menjadi sangat istimewa — bukan karena rasanya, tetapi karena senyum yang tersirat di wajah ibunda. Senyum yang tidak bisa dibeli. Senyum yang lahir dari rasa diperhatikan. Senyum yang muncul karena satu keinginan kecilnya tidak diabaikan. Dan itulah “sihir pecel kembang turi” bekerja.
Kami menyadari bahwa yang kami kejar dulu bukan makanannya, tetapi momen — kesempatan untuk berbuat baik.
Ayat ini tidak berbicara tentang pengorbanan spektakuler. Ia berbicara tentang sikap. Maka kisah ini bukan tentang pecel, bukan tentang kembang turi, tetapi tentang satu hal yang sering kita abaikan: kepekaan terhadap peluang kecil untuk membahagiakan orang tua. Karena kebaikan kepada mereka tidak selalu menunggu momentum besar — hingga kita justru kehilangan kesempatan untuk melakukan kebaikan kecil.
Kedua ayat dalam Surah Al-Isra di atas tidak berbicara tentang pengorbanan besar. Ia berbicara tentang hal yang sangat kecil: mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian, menjawab dengan nada lembut, mengikuti keinginan sederhana mereka, menyempatkan duduk bersama tanpa tergesa-gesa. Artinya, berbakti kepada orang tua dimulai dari sesuatu yang bahkan sering kita abaikan dalam keseharian.
Jangan sampai semua itu telah berlalu — yang tersisa hanyalah “sihir kenangan” yang tidak lagi bisa diulang. Dan saat itu, penyesalan tidak lagi mengubah apa-apa.
Betapa tegas peringatan ini — bahwa peluang itu sangat berharga dan sangat terbatas. Momen itu ada setiap hari. Jangan menunggu, jangan menunda. Sebelum semuanya menjadi cerita masa lalu, sebelum kita hanya bisa berkata “seandainya”. Sering kali kita baru menyadari nilainya setelah kesempatan itu hilang.
Kebaikan kecil ini bisa diciptakan kapan saja. Dan bisa jadi, ia justru merupakan jalan menuju ridha Allah.