Kecepatannya boleh berubah. Arah jangan berubah.
Saudaraku,
Resilience seorang Muslim bukanlah kemampuan untuk selalu berlari. Ada saat kita mampu berlari, ada saat hanya sanggup berjalan, bahkan ada saat kehidupan membuat kita seakan hanya mampu merangkak.
Kecepatannya boleh berubah. Arah jangan berubah.Inilah yang membedakan resilience seorang Muslim dari sekadar mental toughness. Tujuannya bukan menjadi manusia yang tidak pernah lelah, tidak pernah sedih, atau tidak pernah jatuh. Tujuannya adalah tetap mempunyai orientasi kepada Allah ketika keadaan diri berubah.
Dalam bahasa trajectory:
Yang berbahaya bukan semata-mata melambat. Yang jauh lebih berbahaya adalah kehilangan kompas, berhenti, kemudian berbalik arah.
Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 2:186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ Wa idzā sa'alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb, ujību da'watad-dā'i idzā da'ān, fal-yastajībū lī wal-yu'minū bī la'allahum yarsyudūn. Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk. QS Al-Baqarah 2:186Ada beberapa frasa yang sangat penting.
فَإِنِّي قَرِيبٌ — Fa innī qarīb — "Sesungguhnya Aku dekat." Menariknya, Allah tidak mengatakan kepada Nabi ﷺ, "katakanlah kepada mereka bahwa Aku dekat." Jawabannya datang langsung: "Sesungguhnya Aku dekat." Seakan tidak diperlukan jarak antara hamba yang mencari dengan Rabb yang dicarinya.
Lalu أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ — Ujību da'watad-dā'i, "Aku mengabulkan doa orang yang berdoa." Tetapi ayat tidak berhenti pada doa. Allah melanjutkan: فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي — Fal-yastajībū lī, "Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku."
Ini penting. Kedekatan kepada Allah bukan hanya Allah mendengarkan saya, tetapi juga saya merespons panggilan Allah.
Kemudian tujuan akhirnya: لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ — La'allahum yarsyudūn, "Agar mereka memperoleh petunjuk/kebenaran arah." Kata rusyd mengandung makna petunjuk menuju tindakan dan arah yang benar.
Allah dekat → kita memohon → kita juga merespons Allah → iman dipertahankan → arah hidup menjadi benar.
Ini salah satu kesalahan appraisal yang sering terjadi.
Padahal Al-Baqarah 2:214 justru menggambarkan orang-orang yang sedang berjalan menuju surga mengalami:
مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا Massat-humul-ba'sā'u wadh-dharrā'u wa zulzilū. Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan, dan diguncangkan. QS Al-Baqarah 2:214Frasa penting: وَزُلْزِلُوا — Wa zulzilū, "Mereka diguncangkan dengan hebat." Artinya, guncangan tidak otomatis berarti salah jalan. Bahkan seseorang dapat berada pada trajectory yang benar tetapi sedang melalui medan yang sangat berat.
Jangan mengukur kedekatan Allah hanya dari mudah atau sulitnya kehidupan.
Kesenangan dapat mendekatkan bila melahirkan syukur. Kesulitan dapat mendekatkan bila melahirkan sabar, doa, tawakkal, muhasabah, dan taubat. Sebaliknya, kesenangan dapat menjauhkan jika melahirkan kelalaian.
Kesedihan yang membawa kita semakin dekat kepada Allah dapat lebih berharga daripada kesenangan yang membuat kita lupa kepada-Nya.
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ Fadzkurūnī adzkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn. Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari-Ku. QS Al-Baqarah 2:152Frasa sentralnya: فَاذْكُرُونِي — Fadzkurūnī, "Ingatlah kepada-Ku," kemudian أَذْكُرْكُمْ — Adzkurkum, "Aku akan mengingat kalian." Ada relasi yang aktif.
Karena boleh jadi tubuh sedang lemah, kemampuan kognitif menurun karena kelelahan, emosi sedang tidak stabil, dan sumber daya yang dimiliki terbatas. Tetapi arah qalb masih dapat dipertahankan.
Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman:
فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ Fa in dzakaranī fī nafsihī dzakartuhu fī nafsī, wa in dzakaranī fī mala'in dzakartuhu fī mala'in khairin minhum. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada mereka. وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً Wa in taqarraba ilayya bi syibrin taqarrabtu ilaihi dzirā'an, wa in taqarraba ilayya dzirā'an taqarrabtu ilaihi bā'an, wa in atānī yamsyī ataituhu harwalah. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan cepat. HR. Al-Bukhari dan MuslimFrasa pentingnya sangat relevan: تَقَرَّبَ إِلَيَّ — Taqarraba ilayya, "Mendekat kepada-Ku." Ini adalah movement. Kemudian يَمْشِي — Yamsyī, "Berjalan." Dan هَرْوَلَةً — Harwalah — secara bahasa menggambarkan berjalan dengan cepat; dalam hadits qudsi ini kita menetapkannya sebagaimana datang dalam nash tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
Inisiatif seorang hamba untuk kembali dan mendekat kepada Allah tidak sia-sia.
Di sinilah QS Ali 'Imran 3:135 kembali menjadi sangat penting:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ Walladzīna idzā fa'alū fāḥisyatan au ẓalamū anfusahum dzakarullāha fastaghfarū lidzunūbihim. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. QS Ali 'Imran 3:135Perhatikan urutannya: ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ — Ẓalamū anfusahum, "Mereka menzalimi dirinya." Mereka jatuh. Tetapi kemudian ذَكَرُوا اللَّهَ — Dzakarullāh, "Mereka mengingat Allah." Kesadaran orientasi kembali. Lalu فَاسْتَغْفَرُوا — Fastaghfarū, "Mereka memohon ampun." Maka terjadi koreksi trajectory.
Dan bagian akhir ayat bahkan menambahkan وَلَمْ يُصِرُّوا — Wa lam yuṣirrū, "Mereka tidak menetap/bersikeras di dalamnya."
Bukan tidak pernah menyimpang, tetapi tidak menetap dalam penyimpangan.
Frasa penting: إِلَّا وُسْعَهَا — Illā wus'ahā, "Kecuali sesuai kapasitasnya." Ayat ini tidak mengatakan bahwa beban akan selalu terasa ringan. Justru seseorang dapat merasa berada pada batas kemampuan. Yang dijanjikan bukan kehidupan tanpa beban, melainkan bahwa Allah mengetahui wus', kapasitas hamba-Nya.
Dua frasa penting: عَزَمْتَ — 'Azamta, "Engkau telah membulatkan tekad." Ada keputusan. Ada usaha. Ada tindakan. Kemudian فَتَوَكَّلْ — Fatawakkal, "Maka bertawakkallah." Ada penyerahan outcome kepada Allah.
Materi awal mengatakan bahwa resilience menentukan kemampuan seseorang untuk bertahan dalam dunia yang berubah cepat, bangkit setelah kegagalan, serta tetap kuat secara mental dan emosional.
Islam tidak menolak kemampuan tersebut. Tetapi Islam memberinya kompas, makna, dan tujuan akhir.
Dengan demikian, kalimat tentang berlari, berjalan, dan merangkak tadi memperoleh makna yang lebih dalam.
Tidak setiap hari seorang Muslim mampu berlari menuju Allah. Ada hari ia hanya mampu berjalan. Ada masa ia tertatih. Bahkan ada saat ia jatuh. Tetapi jatuh bukan akhir trajectory.
Selama qalb masih mengenali kompasnya, ia masih dapat bangkit, beristighfar, memperbaiki arah, lalu melanjutkan perjalanan.
Sebab persoalan terbesar seorang Muslim bukanlah seberapa cepat ia berjalan, tetapi apakah ia masih berjalan menuju Allah.
Bukan "the last man standing", tetapi "the last man still facing Allah."
Tetap berdiri ketika mampu.
Berjalan ketika kuat.
Merangkak ketika lemah.
Bangkit ketika jatuh.
Bertaubat ketika menyimpang.
Tetapi satu hal jangan sampai hilang:
Sebab trajectory seorang Muslim pada akhirnya bukan tentang kehidupan yang tidak pernah mengguncangnya. Ia adalah tentang qalb yang, setiap kali terguncang, masih tahu ke mana harus pulang.