Refleksi atas Surah Al-Mā’idah 41 — tentang oportunisme, kemunafikan, dan penyucian hati dalam dunia yang serba kalkulatif.
Ayat ini terasa seperti cermin zaman. Kebenaran kini bisa dinegosiasikan; diterima bila menguntungkan, ditolak bila mengancam kenyamanan. Manusia modern tidak lagi menolak kebenaran secara terang-terangan — mereka menundanya, menawar-nawarnya, seperti pedagang yang menakar nurani dengan kalkulator.
Kita hidup di dunia yang menjadikan iman sebagai formalitas sosial. Orang berkata “beriman” di depan publik, tapi hatinya sibuk berhitung peluang. Kebenaran kehilangan makna karena ia hanya berlaku selama aman. Oportunisme seperti ini adalah kemunafikan yang berbalut strategi — lembut di bibir, licik di hati. Ia menjelma dalam bisnis, politik, bahkan ibadah: ketika manusia mengukur amal dengan imbalan, bukan keridhaan.
Allah menyebut: yuḥarrifūna al-kalima min ba‘di mawāḍi‘ih — mereka mengubah kalimat dari tempatnya. Dulu itu dilakukan oleh segelintir ahli kitab; kini oleh siapa saja yang mampu memanipulasi wacana.
Kita melihat pelintiran dalam berita, dalam kebijakan, dalam ceramah, dalam papan iklan. Wahyu yang tetap suci dipakai untuk menjustifikasi ambisi duniawi. Kata “amanah” berubah menjadi merek; kata “adil” menjadi slogan; kata “ikhlas” menjadi tagline. Di sinilah kebohongan disulap menjadi nilai — dan masyarakat kehilangan arah karena tak lagi tahu mana kebenaran sejati, mana kebenaran buatan.
Oportunisme adalah penyakit halus yang menular lewat rasa takut. Takut kehilangan posisi, takut disalahpahami, takut rugi. Padahal setiap ketakutan seperti itu adalah bentuk kecil dari kekafiran terhadap janji Allah: bahwa yang jujur tidak akan disia-siakan.
Manusia mencari “aman” di dunia tapi melupakan ketenangan di akhirat. Mereka memilih diam ketika harus bersuara, memilih ikut arus ketika kebenaran menuntut keberanian. Inilah fitnah hati — kebingungan antara selamat dan benar.
Ketika hati berkali-kali menolak cahaya kebenaran demi kenyamanan, Allah biarkan ia tenggelam dalam kabut. Ia masih berdetak, tapi kehilangan cahaya. Dan dari hati yang demikian lahir generasi yang kehilangan rasa malu terhadap dosa, kehilangan hormat terhadap kebenaran.
Kehinaan itu tidak selalu berupa kemiskinan, tapi kehilangan integritas, martabat, dan kejujuran — hal yang tak bisa dibeli kembali.
Surah Al-Mā’idah 41 memanggil jiwa yang letih karena berpura-pura. “Jangan bersedih,” kata Allah kepada Rasul-Nya, “atas mereka yang berlomba dalam kekafiran.” Kata itu juga untuk kita: jangan bersedih karena kejujuran tampak kalah, sebab kemenangan sejati bukan diukur dari hasil, tapi dari kebersihan niat. Kita mungkin kehilangan posisi karena jujur, tapi tidak kehilangan harga diri. Kita mungkin dimusuhi karena benar, tapi tetap bersama Allah yang Maha Melihat.
Setiap kali kita memilih aman padahal tahu yang benar, kita sedang membeli kebenaran semu. Dan setiap kali kita menolak kebohongan meski rugi, kita sedang menjual dunia untuk membeli kehormatan. Kebenaran tidak bisa dinegosiasikan, dan integritas tidak bisa disewa. Siapa yang memilih aman hari ini, mungkin akan menang sementara; tapi siapa yang memilih benar, akan tenang selamanya.