Kita sering sibuk mencari siapa yang salah — pemimpinnya, sistemnya, elite-nya. Boleh jadi memang ada yang salah di sana. Tapi ada pertanyaan yang lebih dekat, dan lebih sulit dijawab.
Kita tidak pernah memilih di zaman apa dilahirkan. Tapi kita masih memilih bagaimana menjalaninya.
Zaman Boleh Berganti, Takwa Jangan Ikut Berganti
Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan fase kepemimpinan umat — dari nubuwwah, khilāfah yang mengikuti jalan kenabian, mulkan ‘āḍḍan yang mewariskan kekuasaan, hingga mulkan jabariyyan: kekuasaan yang memaksa.
Saya tidak hendak menunjuk kita sedang di titik yang mana. Tapi karakter mulkan jabariyyan bisa kita rasakan tanpa perlu memberi label pada siapa pun: ketika kritik semakin sulit didengar, ketika kepentingan orang banyak kalah oleh kepentingan yang berkuasa, ketika keputusan dibuat tanpa cukup mendengar rakyatnya.
Lalu, apa yang dilakukan seorang mukmin menghadapi zaman seperti itu?
Jangan Sampai Zaman yang Buruk Membuat Kita Ikut Menjadi Buruk
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا
Wa law anna ahlal-qurā āmanū wattaqaw…
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa…”
QS Al-A‘rāf: 96
Perhatikan: ahlal-qurā — penduduknya. Bukan hanya pemimpinnya.
Keberkahan sebuah negeri tidak hanya soal siapa yang duduk di singgasana. Tapi soal siapa yang menghuninya.
Maka boleh marah pada korupsi, tapi jangan biasa mengambil yang bukan hak. Boleh menuntut pejabat jujur, tapi jangan berdamai dengan kebohongan sendiri. Boleh menuntut pemerintah adil, tapi jangan zalim ketika kebetulan kita yang punya kuasa — sebagai direktur, dokter, guru, suami, orang tua.
Jangan Titipkan Akhirat kepada Manusia
Di bawah kekuasaan yang kuat, kita perlahan kehilangan keberanian berpikir. Yang benar tak lagi ditentukan oleh benarnya, tapi oleh siapa yang mengatakannya.
إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
Innā aṭa‘nā sādatanā wa kubarā’anā, fa-aḍallūnas-sabīlā.
“Sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan.”
QS Al-Aḥzāb: 67
Bukan sekadar ada pemimpin yang salah. Ada manusia yang memilih tetap mengikuti kesalahan itu. Dan “saya hanya mengikuti” tidak akan cukup jadi alasan.
Sebab Pada Akhirnya Mereka Akan Berpisah
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ
Idz tabarra’alladzīnat-tubi‘ū minalladzīnattaba‘ū… wa taqaṭṭa‘at bihimul-asbāb.
“Ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti … dan segala hubungan di antara mereka terputus.”
QS Al-Baqarah: 166
Di dunia kita bisa membela seseorang habis-habisan — bertengkar untuknya, memutus silaturahmi karenanya, membenarkan kesalahannya. Tapi kelak hubungan itu putus. Yang tersisa hanya manusia dan amalnya.
Maka mukmin butuh jarak sehat terhadap kekuasaan. Bukan apatis, bukan pula benci pada semua pemimpin — tapi baṣīrah-nya tidak pernah diserahkan kepada siapa pun.
Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mungkin kita tak mampu mengubah struktur kekuasaan. Tapi Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ketiadaan kekuasaan berarti ketiadaan tanggung jawab.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Kalau tak mampu memperbaiki kekuasaan yang besar, jangan telantarkan kekuasaan kecil yang Allah titipkan padamu.
Pimpin dirimu. Jaga keluargamu. Didik anak-anakmu agar tak mudah menyerahkan pikirannya pada orang lain.
Kalau dokter, jangan zalimi pasien. Kalau pengusaha, jangan zalimi pekerja. Kalau atasan, jangan pakai jabatan untuk memuaskan ego. Kalau punya ilmu, jangan pakai untuk membenarkan yang salah.
Jangan Menunggu Zaman Berubah
Kita sering menunggu — pemimpin yang baik, sistem yang baik, zaman ideal yang kita bayangkan. Padahal boleh jadi umur kita tak sampai ke sana.
Dan itu bukan persoalan. Allah tidak menilai kita dari apakah kita sempat menyaksikan kemenangan. Yang dinilai adalah apa yang kita lakukan selama menunggunya.
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Inna ma‘al-‘usri yusrā.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS Asy-Syarḥ: 6
Bukan setelah kesulitan. Tapi ma‘a — bersama. Kemudahan itu hadir bersamaan, hanya sering tak terlihat karena mata kita habis menatap kesulitan.
Seorang mukmin tidak menggantungkan kualitas dirinya pada kualitas zamannya.
Ia tetap jujur ketika bohong jadi kebiasaan. Tetap adil ketika berpihak lebih menguntungkan. Tetap berpikir ketika orang lain memilih ikut arus. Tetap berkata benar ketika diam terasa lebih aman.
Kita memang tidak pernah bisa memilih di fase sejarah mana kita dilahirkan.
Tapi kita masih bisa memilih: kelak, di hadapan Allah, kita tercatat sebagai siapa.
Bukan sekadar yang pandai mengeluh soal zamannya. Tapi yang memahami zamannya, menjaga baṣīrah-nya, menunaikan amanahnya — meski dunia di sekelilingnya sedang berjalan ke arah yang berbeda.
Dan mungkin, di zaman ketika batas antara benar dan salah semakin mudah dikaburkan, yang paling kita perlukan bukan sekadar kemampuan untuk melihat.
Tetapi memohon kepada Allah agar cara melihat kita tetap benar.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnat-tibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnaj-tinābah.
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan, dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”
Sebab persoalannya bukan hanya apakah kebenaran masih ada di hadapan kita.
Persoalannya adalah apakah kita masih mempunyai baṣīrah untuk mengenalinya, keberanian untuk mengikutinya, dan keteguhan untuk tetap berada di atasnya — ketika zaman memilih berjalan ke arah yang lain.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Agung Sapta Adi
Kumpulan Esai — masihkahadaasa.com