Esai · Pelita Desa, Ciseeng

Ketika Seorang Mentor Tidak Menyerah

Sebelum membangun sebuah lembaga, Prof. Samsu terlebih dahulu membangun manusia.

Agung Sapta Adi
Potret di antara rak buku
Bagian 1

Sebuah Undangan, Sebuah Cerita

Bermula dari undangan pribadi Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI untuk menghadiri acara syukuran Institut Pelita Desa di Ciseeng Bogor. Tempat ini bisa diceritakan sebagai kawasan outbound, pendidikan life skill, atau pemberdayaan masyarakat. Sejak sekitar 2002, Pelita Desa berkembang sebagai lembaga di bawah Yayasan Pelita Ilmu (YPI), dengan orientasi pembangunan desa melalui pengembangan potensi remaja desa.

Poster Acara Syukuran Institut Pelita Desa, 4 Oktober 2026
Acara Syukuran Institut Pelita Desa · 4 Oktober 2026

Namun dari percakapan saya dengan Kang Adi Setiadi, saya justru menemukan cerita yang lebih mendasar:

sebelum membangun sebuah lembaga, Prof. Samsu terlebih dahulu membangun manusia.

Dan salah satu manusia itu adalah Adi.

Ketika masih sangat muda—sekitar usia 18 tahun—Adi bertemu Prof. Samsu dan masuk ke lingkungan pelatihan keterampilan. Dari sanalah dimulai perjalanan panjang yang ternyata tidak selalu berisi keberhasilan.

Bagian 2

Syarat, Rukun, Wajib, dan Sunnah

Kang Adi menggambarkan filosofi pembentukan manusia itu dengan istilah sederhana: Syarat, Rukun, Wajib, dan Sunnah.

Syaratnya: Mau dan Yakin.

Sebelum seseorang diajari teknik apa pun, harus ada kemauan yang lahir dari dirinya sendiri dan keyakinan untuk menjalani proses. Dalam percakapan kami, Adi mengatakan,

“Syaratnya tuh mau sama yakin.”

Lalu Rukunnya: Nyali dan Daya Tahan.

Nyali membuat seseorang berani memulai. Daya tahan membuatnya tidak berhenti ketika kenyataan ternyata jauh dari harapan.

Dan dua hal inilah yang benar-benar diuji dalam kehidupan Adi.

Bagian 3

Dua Puluh Tujuh Kali

Ia berkali-kali mencoba usaha. Berkali-kali pula belum berhasil. Tetapi yang menarik, Prof. Samsu tetap berada di belakangnya. Adi mengenangnya:

“Saya tuh dimodalin Prof. itu 27 kali.”

Dua puluh tujuh kali.

Saya kemudian bertanya dalam hati: mengapa seorang profesor masih mau mendampingi seorang pemuda yang sudah berkali-kali gagal?

Barangkali jawabannya tersimpan dalam satu prinsip Prof. Samsu yang masih diingat Kang Adi sampai hari ini:

“Enggak ada murid yang bodoh. Yang ada adalah guru atau mentor yang mudah menyerah.”

Di sinilah pendidikan karakter menjadi berbeda dari sekadar ceramah tentang karakter.

Karakter tidak cukup diberitahukan. Ia harus diberi ruang untuk mengalami, mencoba, jatuh, bangkit, mencoba kembali—dan bertahan.

Bagian 4

Bukan Gagal, Hanya Berhenti Terlalu Cepat

Sampai suatu ketika Adi menemukan pelajaran penting dari kegagalannya sendiri.

Saat menjalankan usaha ekspor ikan, ia sudah membuat website dan membangun usahanya. Karena merasa bisnis itu tidak berjalan, ia kemudian berpindah ke usaha lain. Dua tahun kemudian permintaan justru mulai berdatangan. Sayangnya, ia sudah berhenti.

Dari pengalaman itu lahirlah sebuah kesadaran:

“Sebenarnya tuh bukan gagal, cuman berhenti terlalu cepat.”

Ketika kemudian memulai usaha outbound, Adi mengambil keputusan berbeda.

Kali ini ia tidak akan berpindah sebelum berhasil.

Rugi, terus.
Belum ketemu hitungannya, terus.

Tetapi kali ini ia bertahan.

Perlahan kerugian berkurang hingga akhirnya mulai muncul surplus. Prof. Samsu kemudian memberikan pelajaran berikutnya:

kalau sudah berhasil satu, baru boleh pindah.

Bagian 5

Wajib dan Sunnah

Barangkali di situlah Wajib mulai menemukan maknanya: karakter baik yang menjaga nyali dan daya tahan agar tidak berubah menjadi sekadar kenekatan. Jujur, sabar, konsisten, amanah, disiplin, dan mampu bekerja bersama—nilai-nilai yang kemudian dirumuskan dalam materi Pelita Desa.

Sedangkan berbagai kemampuan teknis, inovasi, dan kecerdasan mengelola usaha berada setelahnya. Kang Adi menyebutnya Sunnah. Penting, tetapi bukan fondasi pertama.

Sebab teknik masih dapat dipelajari. Tetapi orang yang tidak mau, tidak yakin, tidak berani memulai, atau selalu berhenti ketika gagal, mungkin tidak akan cukup lama berada dalam proses untuk memanfaatkan seluruh keterampilan yang dipelajarinya.

Bagian 6

Surplus: Menumbuhkan Satu Kelebihan

Yang lebih menarik, proses itu ternyata tidak berhenti pada keberhasilan Adi.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Adi sendiri harus membimbing orang lain, saya seperti mendengar kembali gema cara Prof. Samsu dahulu memperlakukannya:

“Lupakan semua kekurangannya dia. Fokus dengan satu kelebihannya dia, gitu aja.”

Bukan berarti kekurangan itu hilang. Kang Adi menggunakan istilah yang menarik: “surplus.”

Kelebihan seseorang terus ditumbuhkan hingga menjadi jauh lebih besar daripada kekurangannya.

Dan di sinilah saya mulai memahami bahwa warisan Prof. Samsu ternyata bukan hanya Pelita Desa.

Ada sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun daripada gedung, wahana outbound, PKBM, atau sebuah organisasi:

manusia yang suatu hari mampu membangun manusia lainnya.
Bagian 7

Mata Rantai

Prof. Samsu bertahan mendampingi Adi. Adi muda belajar bertahan menghadapi kegagalan. Setelah tumbuh, Kang Adi kemudian belajar bertahan mendampingi orang lain.

Maka perjalanan itu seperti membentuk sebuah mata rantai:

Tetapi setelah mendengar cerita Kang Adi, saya menyadari ada sesuatu yang bahkan mendahului semuanya:

ada seorang mentor yang bersedia tetap berada di sana ketika orang yang dibimbingnya belum menjadi siapa-siapa.

Mentor yang tidak buru-buru menghakimi kegagalan sebagai ketidakmampuan. Tidak merasa dirinya terlalu tinggi untuk menemani seorang pemuda mencoba lagi. Tidak menjadikan ilmu dan gelar sebagai jarak. Dan ketika percobaan pertama, kedua, bahkan berikutnya belum berhasil, ia memilih untuk tetap memberikan kesempatan.

Barangkali justru di situlah kebesaran seorang pendidik terlihat.

Bukan pada seberapa banyak orang mendengarkan ceramahnya, tetapi seberapa lama ia bersedia membersamai seseorang sampai orang itu mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Foto bersama di acara syukuran Institut Pelita Desa
Syukuran Institut Pelita Desa, Ciseeng
Penutup

Warisan Seorang Mentor

Dari seluruh percakapan kami, Kang Adi mengucapkan satu kalimat pendek:

“Kemampuan bertahan untuk memberikan sesuatu. Itu pelajaran banget itu.”

Saya kira kalimat itu tidak hanya bercerita tentang Adi.

Ia juga bercerita tentang Prof. Samsu.

Seorang profesor yang dengan segala ilmu dan pengalamannya memilih mengambil posisi yang sangat sederhana: menjadi mentor bagi seorang anak muda. Dengan kerendahan hati untuk terus membersamai, kesabaran melihat kekurangan, keberanian memberikan kesempatan, dan keteguhan untuk tidak menyerah ketika hasil belum terlihat.

Hari ini kita mungkin melihat Pelita Desa sebagai hasilnya.

Tetapi jauh sebelum Pelita Desa tumbuh, ada proses yang jauh lebih sunyi: seorang mentor sedang membentuk karakter seorang pemuda.

Dan mungkin itulah warisan terbesar Prof. Samsu:

bukan sekadar membangun Pelita Desa, tetapi membangun manusia yang kemudian mampu membangun manusia lainnya.

Ketika seorang mentor tidak menyerah, kegagalan seorang anak muda belum menjadi akhir cerita. Ia mungkin justru sedang berada dalam proses menjadi manusia yang kelak meneruskan kebaikan gurunya.