Kerinduan seorang wanita shalihah akan Rumah Terakhirnya.
Hampir sembilan tahun Ibunda kami, Ibu Siti Sukati, berpulang. Kenangan tentang kehangatan seorang ibu tentu tak pernah benar-benar hilang. Namun seiring waktu, kami menyadari bahwa yang paling sering hadir bukan sekadar ingatan tentang apa yang pernah kami terima dari beliau, melainkan rasa kehilangan akan sesuatu yang jauh lebih sunyi: kehilangan kesempatan untuk berbuat lebih baik kepada beliau.
Banyak orang memaknai rindu sebagai kerinduan akan pelukan, masakan, perhatian, atau kehadiran fisik seorang ibu. Bagi kami, rindu justru terasa lebih dalam karena yang hilang bukan penerimaan, melainkan pengabdian. Bukan tentang apa yang beliau berikan kepada kami, tetapi tentang apa yang tidak sempat kami sempurnakan untuk beliau.
Di sela masa perawatan itu, Ibu menyampaikan satu permintaan yang sama sekali tidak biasa. Ini bukan kali pertama beliau dirawat. Kami sudah terbiasa dengan rutinitas rumah sakit: kontrol dokter, infus, dan pemulihan. Biasanya permintaan sepulang rawat berkisar pada hal sederhana — ingin pulang, ingin makan masakan rumah, ingin bertemu cucu. Namun kali ini berbeda. Dengan suara pelan, dalam kondisi tubuh yang masih lemah, beliau berkata:
“Nanti kalau Ibu sudah boleh pulang, antar Ibu ke Pemakaman Islam Al Azhar.”
Kami terdiam. Bukan karena takut, tetapi karena tidak siap mendengar permintaan seperti itu datang dari seorang ibu yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Dalam kondisi seperti itu, manusia pada umumnya akan meminta hal-hal yang menguatkan hidup. Tetapi Ibu justru meminta untuk melihat peristirahatan terakhirnya. Permintaan itu bukan keluhan, bukan tangisan, bukan pula nada putus asa. Justru disampaikan dengan ketenangan yang sulit dijelaskan — seakan bukan sedang membicarakan kematian, tetapi sedang menunaikan satu kesadaran batin yang telah matang.
Ibu diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan beberapa hari. Tangan beliau masih terbalut kasa bekas infus, tubuhnya belum benar-benar pulih. Namun beliau tidak mau menunggu lama. Pulang dari rumah sakit, tanpa menunda, kami langsung menuju Karawang, ke Pemakaman Islam Al Azhar.
Jarak tempuh yang jauh, kondisi fisik yang belum kuat, waktu perjalanan yang panjang — semuanya tidak menyurutkan semangat beliau. Sepanjang perjalanan, Ibu tampak justru lebih hidup, lebih fokus, lebih hadir. Bukan seperti orang yang sedang menuju tempat duka, tetapi seperti seseorang yang sedang menyelesaikan satu urusan penting dalam hidupnya. Beliau ingin melihat langsung. Beliau ingin memastikan. Beliau bahkan meminta kami untuk segera memesankan kavling.
Kami mencoba mengingatkan prinsip hidup beliau sendiri: bahwa bumi Allah itu luas, bahwa di mana pun seseorang wafat di situlah ia dimakamkan, bahwa kita tak perlu repot memikirkan hal semacam ini. Ibu hanya tersenyum. Tidak membantah panjang, tidak berdebat, tidak memberi ceramah. Namun sejak hari itu, ada satu hal yang benar-benar berubah: beliau tidak mau lagi meninggalkan Bekasi, tempat kami tinggal.
Kami menawarkan berbagai kemungkinan: bepergian ke kota lain, menjumpai anak cucu, bahkan dengan ambulans pribadi jika perlu. Semua ditolak dengan sangat halus. Seolah beliau telah menutup seluruh rencana duniawi dan hanya menyisakan satu kesadaran sederhana di dalam dirinya: “Sudah waktunya.” Tidak ada kepanikan, tidak ada kepasrahan yang pahit. Yang ada justru ketenangan yang utuh.
Kami akhirnya memahami makna sebuah keputusan setelah bertahun-tahun kemudian: Ibu bukan sedang memilih tempat dikuburkan. Ibu sedang bersiap pulang.
Dan sekarang, sembilan tahun setelah itu, maknanya menjadi sangat jelas. Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan sosok, tetapi kehilangan kesempatan — kesempatan untuk melayani dengan lebih sabar, untuk menahan ego, untuk membalas dengan lebih layak. Karena setelah orang tua pergi, kita baru sadar: rasa cinta masih bisa hidup, rasa rindu masih bisa hadir, tetapi kesempatan berbakti telah tertutup selamanya.
Pada akhirnya, kerinduan sejati dalam kisah ini tidak berhenti pada kerinduan seorang anak kepada ibunya. Ia bermuara pada sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih sunyi: kerinduan seorang hamba untuk bertemu Rabb-nya.
Inilah potret jiwa yang tidak gelisah menghadapi akhir, karena ia merasa sedang dipanggil, bukan diambil. Di titik ini, makna kisah Ibunda Siti Sukati melampaui relasi keluarga. Ia berubah menjadi pelajaran iman: bahwa ada kerinduan yang lebih tinggi daripada sekadar ingin kembali memeluk orang yang kita cintai, yaitu kerinduan untuk kelak berkumpul kembali dalam ridha Allah, di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.
Bukan hanya pertemuan, tetapi pertemuan yang dipersatukan oleh iman. Bukan sekadar reuni, tetapi perjumpaan yang tidak lagi dibatasi usia, jarak, sakit, atau kematian. Maka rindu dalam kisah ini bukan rindu yang ingin menahan yang telah Allah panggil — ia adalah rindu yang justru mendidik hati untuk bersiap dipanggil.
Dan mungkin itulah bentuk rindu yang paling dewasa: bukan rindu yang ingin mengembalikan masa lalu, tetapi rindu yang menata masa depan akhirat. Bukan rindu agar orang yang kita cintai kembali, melainkan rindu agar kelak kita sendiri dipanggil dalam keadaan yang sama — siap pulang, dan siap berjumpa.