Dalam ketidakpastian hidup berbangsa, kita tetap berpegang pada Yang Maha Pasti.
Kita hidup dalam zaman yang tidak hanya penuh ketidakpastian — tetapi juga zaman di mana ketidakpastian dipelihara oleh kekuasaan. Tidak ada arah yang pasti dalam kebijakan, tidak ada keberpihakan yang tegas pada rakyat, dan tidak ada kompas moral yang jujur di balik keputusan-keputusan publik. Seolah-olah negara telah menjadi panggung sandiwara: rakyat diperintah bersabar, sementara para elit bebas berpesta.
Negara bukan sekadar struktur administratif. Ia adalah amanah besar dari Allah SWT untuk melindungi, menegakkan keadilan, dan menjadi wakil dalam menjaga kemaslahatan.
Namun kenyataan hari ini justru terbalik. Yang bersuara demi keadilan dituduh menyebar hoaks. Yang mengkritik demi kebenaran justru ditekan, dipantau, dan dicurigai. Sementara yang korup, menipu, dan mencuri uang rakyat malah diberi panggung, jabatan, dan penghargaan. Ketidakpastian ini bukan karena negara tidak mampu memberi kepastian, tapi karena negara tidak mau — atau lebih tepatnya, tidak lagi merasa berkewajiban untuk bersikap adil.
Kebijakan hari ini sering diselimuti kata-kata indah, namun substansinya menyingkirkan kedaulatan rakyat, melemahkan perlindungan negara, dan mengalirkan sumber daya ke tangan asing dan elit pasar. Di bidang kesehatan, pendidikan, pangan, energi — rakyat tak lagi jadi pusat. Negara sibuk menyenangkan investor dan lembaga donor, padahal yang membayar harga sesungguhnya adalah ibu-ibu di dapur, anak-anak yang tak bisa sekolah, dan rakyat miskin yang semakin dijauhkan dari hak-haknya.
Ironisnya, ketidakpastian yang dibiarkan justru menjadi alat kekuasaan. Semakin rakyat bingung, semakin mudah dikendalikan. Semakin rakyat takut, semakin mudah dibungkam. Semakin rakyat terbiasa pada ketidakjelasan, semakin tidak berani menuntut kejelasan. Ini adalah bentuk kezaliman terselubung — membiarkan rakyat berjalan dalam kabut, tanpa arah, tanpa sandaran. Maka jangan heran jika kini banyak orang berkata: “Saya tidak tahu harus percaya siapa.” “Saya lelah berharap pada manusia.” “Biar Allah saja yang membalas.”
Islam mengajarkan bahwa diam terhadap kebatilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah iman.
Berdiam diri di hadapan pengkhianatan adalah bentuk ketakutan, bukan ketakwaan. Maka jika rakyat hari ini mengangkat suara, itu bukan tanda makar — tetapi tanda iman masih bernyawa. Jika rakyat mengkritik, itu bukan perpecahan — tetapi bentuk tanggung jawab moral terhadap bangsanya.
Ya, hukum manusia bisa dibeli. Keadilan bisa ditunda. Tapi dalam pandangan Islam, kepastian yang sesungguhnya bukan terletak pada hukum dunia — melainkan pada keadilan Sang Penguasa Semesta.
Di tengah kabut ketidakpastian, kepastian terbesar kita adalah: Allah Maha Melihat, Allah Maha Menghitung, Allah Maha Membalas.
Kita mungkin dikelilingi data yang dimanipulasi, statistik yang dipoles, dan opini yang dikendalikan. Tapi iman kita tahu: kebenaran tidak membutuhkan mayoritas, ia hanya butuh keteguhan. Selama masih ada satu hati yang jujur, satu suara yang berani, satu tindakan yang ikhlas — harapan belum mati. Dalam gelap, kita tetap menyalakan lentera iman, walau kecil, walau sendiri. Karena sejarah selalu berpihak kepada mereka yang tetap teguh meski ditinggal banyak orang.