Buku ini lahir dari kegelisahan yang lama tersimpan, diam-diam, di sela rutinitas dan interaksi dengan banyak orang.
Ada pola yang berulang, di banyak tempat dan banyak wajah: orang-orang yang matang secara usia, berpendidikan tinggi, dan terhormat dalam pandangan sosial — namun di balik semua itu, tersimpan retakan yang tidak pernah benar-benar diakui. Tahu apa yang benar, tetapi tidak selalu berkata benar. Percaya pada nilai-nilai tertentu, tetapi tindakan mengikuti arus lain. Ingin menjadi diri sendiri, tetapi terlalu takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak sepenting itu.
Pola itu, pada akhirnya, juga tampak pada diri sendiri.
Ketika istilah split identity pertama kali ditemukan dalam literatur psikologi sosial, ia tidak terasa sebagai konsep asing. Ia terasa seperti cermin — memantulkan wajah yang sudah lama dikenal, tetapi tidak pernah cukup berani ditatap terlalu lama.
Buku ini bukan sekadar analisis akademik. Ia adalah ikhtiar memahami bagaimana manusia dewasa — yang seharusnya semakin utuh — justru semakin terbelah. Bukan karena bodoh. Bukan karena tidak tahu agama. Melainkan karena tekanan sistemik yang bekerja sangat halus: disrupsi digital, kapitalisme perhatian, perang nilai, dan normalisasi kompromi moral yang berlangsung sedikit demi sedikit hingga tidak lagi disadari kapan perubahan itu bermula.
Dua kaki dipijakkan dalam penulisan ini: satu di ranah ilmu sosial dan psikologi, satu di tradisi keilmuan Islam. Keduanya tidak perlu dipertentangkan — justru saling melengkapi dalam memotret manusia yang sedang sakit, sekaligus menawarkan jalan untuk pulih.
Tidak ada jawaban yang terlalu mudah ditawarkan di sini. Yang tersedia hanyalah undangan untuk berdiri sejenak di depan cermin itu. Menatap retakannya. Dan mempertimbangkan — apakah masih ada kemauan untuk menjadi utuh.
Ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan yang kita sebut 'kedewasaan'.
Manusia dewasa, dalam bayangan kita, harusnya adalah sosok yang solid. Yang tahu siapa dirinya. Yang tidak mudah goyah hanya karena tekanan lingkungan atau iming-iming validasi sosial. Yang ketika berbicara tentang kebenaran, ia tidak hanya fasih di lidah — tetapi juga berani menanggungnya di punggung.
Tetapi coba amati lebih dekat.
Di ruang rapat perusahaan, seseorang yang tahu bahwa kebijakan itu keliru tetap memilih diam karena takut dianggap tidak kooperatif. Di majelis ta'lim, seseorang yang paham tentang riba tetap menandatangani akad bermasalah karena tidak ingin kehilangan peluang bisnis. Di media sosial, seseorang yang sebenarnya tidak setuju dengan tren tertentu tetap ikut bersorak karena tidak mau terlihat kuno.
Apakah ini kelemahan karakter? Apakah ini tanda kurang iman? Tidak sesederhana itu.
Yang kita hadapi bukan semata persoalan individu yang malas beribadah atau minim pengetahuan agama. Yang kita hadapi adalah sebuah kondisi sistemik yang mempersulit manusia untuk tetap utuh — bahkan ketika ia sudah tahu, sudah paham, dan sudah matur dalam banyak dimensi hidupnya.
Itulah yang ingin dibedah dalam buku ini: jiwa matur yang terbelah.
Bukan keterpecahan klinis. Bukan gangguan kepribadian dalam arti psikiatri. Melainkan fragmentasi moral-sosial yang terjadi pada manusia dewasa yang semestinya sudah cukup kuat untuk berdiri — tetapi sistem di sekitarnya terlalu besar, terlalu halus, dan terlalu terorganisir untuk dilawan seorang diri.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Wa idz qaala rabbuka lil malaa'ikati innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah
"Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi."
QS. Al-Baqarah: 30
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah. Bukan penonton. Bukan konsumen. Bukan follower yang hidupnya diatur oleh algoritma dan aspirasi orang lain.
Tetapi hari ini, banyak manusia yang — tanpa disadari sepenuhnya — telah bergeser dari posisi khalifah menjadi sekadar penghuni pasar global. Dari subjek amanah menjadi objek perhatian dan komoditas data.
Pergeseran ini tidak terjadi dalam semalam. Ia berlangsung pelan. Hampir tidak terasa. Hingga suatu hari seseorang terbangun dan mendapati bahwa nilai-nilai yang ia percaya sudah tidak lagi tercermin dalam hidupnya — dan ia tidak benar-benar ingat kapan itu berubah.
Buku ini adalah undangan untuk berhenti sejenak. Melihat ke dalam. Dan mulai bertanya: siapakah kita sebenarnya — di balik semua peran, semua topeng, semua persetujuan yang kita berikan tanpa benar-benar mempertimbangkannya?
Pertanyaan yang ditutup di penghujung prolog tadi — siapakah kita sebenarnya di balik semua peran, semua topeng — menuntun kita untuk mulai dari titik paling dasar: membedakan dua hal yang sering kita anggap sama, yaitu matur dan utuh.
Kematangan (maturity) adalah pencapaian perkembangan — seseorang disebut matur ketika ia telah melewati fase-fase perkembangan tertentu secara biologis, kognitif, sosial, dan emosional.
Tetapi 'matur' tidak otomatis berarti 'utuh'.
Keutuhan (integrity) adalah sesuatu yang berbeda. Ia bukan soal usia atau pencapaian sosial, melainkan tentang koherensi batin: apakah nilai yang diyakini sejalan dengan narasi yang diucapkan dan tindakan yang dijalani. Split identity yang dibahas dalam buku ini adalah keretakan pada koherensi itu — fragmentasi identitas moral-sosial yang dapat dialami oleh hampir siapa pun dalam tekanan budaya tertentu, jauh sebelum ia menjadi persoalan klinis.
Erikson, dalam teori perkembangan psikososialnya, membagi tahap-tahap manusia hingga 'generativity vs stagnation' di masa dewasa — dan terus ke 'integrity vs despair' di akhir kehidupan. Menjadi matur, dalam kerangka ini, berarti seseorang telah menyelesaikan tugas-tugas perkembangan tertentu.
Split identity di sini juga perlu dibedakan dari Dissociative Identity Disorder (DID) dalam pengertian klinis-psikiatri, yang ditandai adanya dua atau lebih kepribadian berbeda yang bergantian mengendalikan perilaku seseorang, umumnya sebagai respons terhadap trauma berat. Yang dibicarakan buku ini lebih luas dan lebih umum daripada itu — dan justru karena itulah lebih berbahaya, sebab tidak memerlukan diagnosis untuk hadir dalam hidup seseorang.
Keretakan koherensi batin itu punya bentuk yang bisa dipetakan. Secara sederhana, split identity terjadi ketika tiga lapisan diri tidak lagi selaras:
"Ideal self: 'Saya tahu apa yang benar.' Social self: 'Saya harus tampak aman dan diterima.' Practical self: 'Saya mengikuti arus agar tidak rugi.'"
Ketika ketiganya berada dalam harmoni, seseorang bisa hidup dengan integritas. Tetapi ketika ketiganya menarik ke arah berbeda — dan manusia memilih untuk mengakomodasi semua tarikan itu daripada memilih salah satu dengan tegas — terjadilah keterpecahan.
Erving Goffman, dalam karyanya The Presentation of Self in Everyday Life, menulis tentang bagaimana manusia memainkan 'peran' berbeda di 'panggung' yang berbeda. Ini adalah kondisi normal — semua orang punya persona publik dan persona privat. Yang menjadi bermasalah adalah ketika jarak antara 'panggung depan' dan 'panggung belakang' itu terlalu jauh, dan seseorang mulai kehilangan jejak mana yang asli.
Tarikan tiga lapisan diri yang tak lagi selaras itu, jika dibiarkan, meninggalkan jejak yang bisa dikenali dalam keseharian. Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan dengan jujur:
| Gejala | Wujud dalam Keseharian |
|---|---|
| Takut berbeda | Risiko sosial terasa lebih nyata daripada risiko spiritual. |
| Hidup performatif | Nilai bukan lagi panduan tindakan, melainkan narasi untuk konsumsi publik. |
| Kompromi yang dinormalisasi | Satu kompromi kecil menjadi kebiasaan hingga tidak terasa lagi sebagai kesalahan. |
| Ketergantungan pada validasi | Ketenangan batin bersumber dari pengakuan orang lain, bukan hubungan dengan Allah. |
| Disonansi yang ditekan | Ketidaknyamanan batin dibenarkan dengan narasi yang tampak masuk akal. |
يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ
Yaquuluuna bi-afwaahihim maa laisa fii quluubihim
"Mereka mengatakan dengan lisan mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka."
QS. Ali Imran: 167
Ayat ini bukan sedang berbicara tentang orang kafir saja. Ia adalah cermin yang bisa menampilkan wajah siapa pun yang lidahnya tidak lagi sejalan dengan hatinya — karena takut, karena kepentingan, karena terbiasa.
Lidah yang tak lagi sejalan dengan hati, sebagaimana ditutup di bab sebelumnya, sesungguhnya bersumber dari satu akar yang sama. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada satu kata untuk akar itu yang sering luput dari perhatian kita ketika berbicara tentang krisis moral: bashirah — pandangan batin.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Afalam yasiiruu fil ardhi fatakuuna lahum quluubun ya'qiluuna bihaa au aadzaanun yasma'uuna bihaa, fa-innahaa laa ta'mal abshaaru wa laakin ta'mal quluubu allatii fii ash-shuduur
"Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami dan telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada."
QS. Al-Hajj: 46
Kebutaan yang dimaksud ayat ini bukan kebutaan retina. Ia adalah kebutaan persepsi moral — ketidakmampuan hati untuk melihat mana yang haq dan mana yang batil.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
Yaa ayyuhal ladziina aamanuu in tattaqullaaha yaj'al lakum furqaanaa
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan."
QS. Al-Anfal: 29
Inilah akar terdalam dari split identity: bukan kurang tahu, melainkan kehilangan pandangan batin yang tajam dan kehilangan kemampuan membedakan dengan berani.
Kehilangan pandangan batin yang tajam itu, pada gilirannya, mengubah posisi kita di hadapan amanah kekhalifahan. Ada transformasi yang paling ironis dalam sejarah kemanusiaan modern: manusia yang dicipta sebagai khalifah hari ini sangat nyaman menjadi follower.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin naasi ta'muruuna bil ma'ruufi wa tanhauna 'anil munkar
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar."
QS. Ali Imran: 110
Khalifah bukan gelar kehormatan yang pasif. Ia adalah jabatan aktif yang menuntut tiga hal: bashirah untuk melihat kebenaran, keberanian untuk menyuarakannya, dan keteguhan untuk menanggung konsekuensinya.
Pergeseran ini tidak terjadi secara dramatis. Ia terjadi melalui serangkaian keputusan kecil yang tampak tidak berbahaya:
'Saya diam dulu. Situasinya belum tepat.' — lalu momen itu tidak pernah datang.
'Saya tidak perlu terlalu vokal. Biarkan yang lain berbicara.' — lalu yang lain pun memilih hal yang sama.
Setiap keputusan kecil itu sendiri tidak fatal. Tetapi akumulasinya adalah bencana batin yang berjalan sangat lambat hingga kita tidak merasakannya sebagai bencana.
Dua atau tiga generasi lalu, role model utama adalah ulama, guru agama, orang tua, dan tokoh masyarakat yang dihormati karena integritas hidupnya. Hari ini, banyak anak muda yang role model utamanya adalah influencer — bukan karena mereka jahat, tetapi karena sistem perhatian telah menggeser siapa yang paling sering muncul.
Inilah salah satu cara tercerdik ghazwul fikri bekerja — bukan dengan menyerang nilai secara frontal, tetapi dengan menggeser siapa yang kita jadikan panutan.
Pergeseran panutan yang dibahas di bab sebelumnya bukan kebetulan — ia adalah pintu masuk favorit sebuah perang yang tidak pernah menyatakan diri sebagai perang. Ghazwul fikri — perang pemikiran — sering dipahami terlalu sempit: seolah hanya tentang penyerangan terhadap akidah secara langsung. Padahal ghazwul fikri yang paling efektif justru datang bersamaan dengan hiburan, gaya hidup, dan narasi yang terasa sangat rasional dan modern.
Perang pemikiran hari ini tidak terutama bekerja dengan cara mendebat Islam secara langsung. Ia membentuk selera, aspirasi, dan rasa takut kita secara halus.
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
Wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy syaithaan
"Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan."
QS. Al-Baqarah: 168
Dalam konteks modern, langkah-langkah setan bisa berwujud serangkaian langkah kecil yang tampak biasa: kompromi kecil yang terasa tidak penting, normalisasi, pembenaran rasional, hingga menjadi standar baru — di mana siapa pun yang menolaknya terasa ekstrem.
Ketika jati diri pemikiran sudah tergerus, ruang yang ditinggalkannya segera diisi oleh kekuatan yang jauh lebih sistematis dan bermotif ekonomi: kapitalisme perhatian. Dalam kapitalisme pengawasan, manusia bukan hanya produk — manusia adalah bahan mentah yang pengalaman batinnya diekstraksi untuk memprediksi, dan kemudian memodifikasi, perilakunya.
Yang menjadi langka dalam dunia yang penuh informasi bukan informasi itu sendiri, melainkan perhatian manusia. Algoritma dirancang untuk memaksimalkan engagement — dan engagement tertinggi sering dicapai melalui konten yang memicu emosi kuat.
Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism memperkenalkan istilah kapitalisme pengawasan untuk menjelaskan mekanisme ekstraksi pengalaman batin ini. Herbert Simon sendiri sudah mengingatkan gejala kelangkaan perhatian ini sejak 1971, jauh sebelum era platform digital lahir.
Guy Debord dalam The Society of the Spectacle menulis tentang bagaimana kapitalisme lanjut mengubah pengalaman hidup menjadi tontonan. Banyak orang tidak lagi mencari kebahagiaan sejati — mereka mencari representasi kebahagiaan.
Kapitalisme perhatian adalah sistem yang paling efisien untuk mengeksploitasi kecenderungan pelarian dari kebebasan.
Sistem yang mengeksploitasi kecenderungan pelarian dari kebebasan itu membutuhkan wajah-wajah untuk diikuti. Albert Bandura dalam Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi. Di era digital, seorang remaja yang menghabiskan empat jam sehari di platform digital telah mengamati model-model tertentu jauh lebih lama daripada ia mengamati orang tuanya sendiri.
Psikologi sosial mengenal halo effect: kecenderungan menilai seseorang yang menarik atau sukses di satu bidang sebagai juga baik di bidang lain. Ini menjadi bermasalah ketika gaya hidup seorang figur populer mulai dinormalisasi hanya karena figur itu sendiri terasa menarik dan sukses.
'Tapi ia baik orangnya.' 'Tapi ia dermawan.' 'Tapi ia tidak menyakiti siapa pun.'
Inilah bagaimana role model bekerja — tidak hanya pada level perilaku, tetapi pada level standar moral itu sendiri.
Standar moral yang telah bergeser itu menuntut penjelasan batin bagi siapa pun yang hidup di dalamnya. Leon Festinger menemukan pada 1957 bahwa ketika keyakinan dan tindakan tidak selaras, muncul ketegangan psikologis yang disebut disonansi kognitif — dan manusia biasanya menyelesaikannya bukan dengan mengubah perilaku, tetapi dengan mengubah narasi pembenaran.
Kita lebih suka membenarkan diri kita sendiri daripada memperbaiki diri kita sendiri.
| Rasionalisasi | Yang Sesungguhnya Terjadi |
|---|---|
| "Tidak ada yang sempurna" | Menjadi penghiburan yang membebaskan diri dari tanggung jawab. |
| "Jangan terlalu ekstrem, Islam itu moderat" | Wasatiyyah disalahartikan sebagai "tidak perlu terlalu serius". |
| "Semua orang juga begitu" | Normalisasi melalui generalisasi. |
| "Nanti kalau situasinya kondusif" | Alasan permanen yang tidak pernah bergerak ke mana-mana. |
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Kabura maqtan 'indallaahi an taquuluu maa laa taf'aluun
"Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan."
QS. As-Saff: 3
Split identity, pada intinya, adalah kondisi di mana narasi kebenaran sudah tidak lagi menanggung beban apa-apa.
Kondisi di mana narasi kebenaran tak lagi menanggung beban apa-apa itu punya penjelasan lain yang lebih menyakitkan: bukan hanya soal pembenaran, tetapi soal ketakutan. Daniel Kahneman dan Amos Tversky menemukan loss aversion: rasa sakit kehilangan sesuatu jauh lebih kuat daripada kesenangan mendapatkan sesuatu yang setara nilainya.
Risiko diam terasa abstrak dan jauh (tanggung jawab moral di hadapan Allah), sementara risiko bersuara terasa nyata dan segera (kehilangan pertemanan, posisi, reputasi). Loss aversion memastikan yang segera selalu terasa lebih berat — meskipun secara objektif yang abstrak jauh lebih signifikan.
Pemulihan dari split identity dimulai dari sini: dari keputusan-keputusan kecil untuk tidak selalu memilih jalan paling aman.
Namun keputusan-keputusan kecil untuk berani itu tidak cukup jika dijalani sendirian di tengah struktur yang terus-menerus mereproduksi masalah yang sama. Ada pola yang berulang di banyak komunitas: masalah yang sama muncul kembali dengan wajah berbeda, dengan struktur yang sama persis — karena yang diselesaikan hanyalah gejala, bukan penyakit.
Masalah yang tidak pernah selesai adalah masalah yang tidak pernah dilihat dengan kejujuran.
Kejujuran yang absen dalam penyelesaian masalah itu jarang sekali kebetulan — ia sering dijaga oleh mekanisme yang bekerja jauh lebih besar daripada satu komunitas. Propaganda tidak selalu berbentuk kebohongan — lebih sering ia berbentuk seleksi, repetisi, dan framing.
Kekuatan dominan mempertahankan posisinya bukan terutama melalui paksaan, tetapi melalui persetujuan yang "sukarela" — nilai kelompok dominan diinternalisasikan sebagai "akal sehat" yang tidak perlu dipertanyakan.
Edward Herman dan Noam Chomsky dalam Manufacturing Consent menelusuri bagaimana struktur kepemilikan media dan ketergantungan pada sumber resmi menyaring informasi yang mencapai publik. Antonio Gramsci, penulis konsep hegemoni budaya, menulis pemikirannya dari balik jeruji penjara Mussolini.
Pertanyaan yang wajar muncul dari sini adalah: apakah semua ini direncanakan oleh satu kekuatan tunggal? Analisis serius tentang persoalan Muslim kontemporer tidak memerlukan asumsi konspirasi tunggal. Ia memerlukan pemahaman tentang struktur: insentif-insentif berbeda yang mendorong banyak aktor ke arah yang sama, tanpa perlu satu mastermind.
Kita bukan hanya korban dari sistem. Kita juga — sampai batas tertentu — adalah agennya. Dan kesadaran itu adalah awal dari perubahan.
Kesadaran sebagai agen — bukan sekadar korban — dari sistem itulah titik awal yang sesungguhnya membuka jalan pulih. Jika split identity adalah fragmentasi jiwa, maka tazkiyah adalah jalan penyatuan kembali.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Qad aflaha man zakkaahaa
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."
QS. Asy-Syams: 9
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
Qul haadzihii sabiilii ad'uu ilallaahi 'alaa bashiiratin ana wa manittaba'anii
"Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku."
QS. Yusuf: 108
Dakwah dengan bashirah, sebagaimana diserukan ayat penutup bab sebelumnya, tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani seorang diri. Tidak ada jiwa yang bisa pulih sendirian — split identity yang terbentuk melalui tekanan sosial hanya bisa disembuhkan secara berkelanjutan dalam konteks sosial yang berbeda.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Wal takun minkum ummatun yad'uuna ilal khairi wa ya'muruuna bil ma'ruufi wa yanhauna 'anil munkar
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar."
QS. Ali Imran: 104
Ketika amar ma'ruf menjadi budaya komunitas, ia tidak lagi terasa heroik atau aneh. Ia menjadi normal — dan itulah yang paling melindungi identitas anggota komunitas dari split identity.
Budaya amar ma'ruf yang menjadi normal dalam sebuah komunitas, sebagaimana ditutup di bab sebelumnya, adalah muara dari seluruh perjalanan buku ini — sebab di situlah keutuhan pribadi dan keutuhan sosial akhirnya bertemu.
Kemenangan manusia bukan hanya menjadi sukses. Kemenangan manusia juga bukan hanya hidup aman.
Kemenangan yang sejati — aflah — adalah ketika seseorang menjadi utuh. Ketika apa yang ia percayai, apa yang ia ucapkan, dan apa yang ia jalani adalah satu hal yang sama.
Di zaman yang memecah ini — zaman disrupsi, algoritma, kapitalisme perhatian, dan perang nilai — menjadi utuh adalah tindakan yang paling radikal sekaligus paling islami. Ia bukan mudah. Tetapi ia mungkin.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban naar
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka."
QS. Al-Baqarah: 201
Semoga kita dimudahkan untuk menjadi utuh.
Al-Qur'an al-Karim.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Ihya' Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Madarij al-Salikin. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1973.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.
Bennabi, Malik. The Question of Ideas in the Muslim World. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2003.
Bandura, Albert. Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1977.
Erikson, Erik H. Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton, 1968.
Festinger, Leon. A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford: Stanford University Press, 1957.
Fromm, Erich. Escape from Freedom. New York: Farrar & Rinehart, 1941.
Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Doubleday, 1959.
Janis, Irving L. Groupthink. Boston: Houghton Mifflin, 1982.
Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers, 1971.
Herman, Edward S., dan Noam Chomsky. Manufacturing Consent. New York: Pantheon Books, 1988.
Debord, Guy. The Society of the Spectacle. New York: Zone Books, 1994.
Han, Byung-Chul. Psychopolitics. London: Verso, 2017.
Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism. New York: PublicAffairs, 2019.
Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2011.
Kahneman, Daniel, dan Amos Tversky. "Prospect Theory." Econometrica, 47(2), 1979.