Jika rumah kehilangan ayah, lahir individu rapuh. Jika negara kehilangan ayah bangsa, lahirlah rakyat yang siap dijadikan komoditas global.
Ada satu luka sunyi yang jarang kita sadari, namun perlahan meruntuhkan fondasi bangsa: ketiadaan ayah. Bukan sekadar dalam keluarga, tetapi juga dalam kehidupan bernegara. Kita menyebutnya fatherless society ketika anak-anak tumbuh tanpa figur ayah. Namun ketika absennya kepemimpinan ayah itu menjelma di ruang kekuasaan, lahirlah fatherless state — sebuah negara tanpa “ayah bangsa” yang sejati.
Fatherless menggambarkan kondisi di mana anak tumbuh tanpa figur ayah — baik secara fisik maupun emosional. Ini bisa terjadi karena perceraian, kematian, atau ketidakhadiran emosional; sekalipun secara fisik ayah ada, namun secara psikologis tidak hadir dalam kehidupan anak.
Dalam rumah, ayah adalah kompas. Ia bukan sekadar pencari nafkah, tetapi pagar, teladan, dan penentu arah. Tanpa ayah, anak masih bisa tumbuh dalam kasih seorang ibu, namun sering kehilangan disiplin, keberanian, dan orientasi hidup. Begitu pula negara. Ibu pertiwi memberi kehangatan, tetapi tanpa sosok “ayah bangsa” yang menghadirkan ketegasan moral, visi jangka panjang, dan keberanian melindungi, negara hanya akan sibuk mengasuh secara administratif, tanpa benar-benar membesarkan rakyatnya menjadi bangsa yang tangguh.
Konsep qiwāmah bukan sekadar relasi rumah tangga. Logikanya berlaku di level bangsa: pemimpin adalah “ayah besar” yang wajib hadir, melindungi, dan menuntun rakyat.
Fenomena fatherless melahirkan generasi rapuh, apatis, mudah terombang-ambing. Dan ketika generasi seperti itu naik ke kursi kepemimpinan, lahirlah pemimpin yang hadir secara formal, tetapi absen secara moral.
Negara fatherless berarti negara yang kehilangan teladan moral, arah, dan keberanian menegakkan keadilan.
Al-Qur’an mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya sebagai contoh ideal kepemimpinan ayah:
Inilah bukti: ayah bukan sekadar kepala rumah tangga, tapi pendidik jiwa. Tanpa ayah, anak kehilangan arah nilai ini; tanpa pemimpin sejati, bangsa kehilangan hikmah yang sama.
Fenomena fatherless terbukti membawa dampak luas. Indonesia disebut berada di peringkat ke-3 dunia dalam fenomena fatherless society (Kompasiana, 2017) — tingginya perceraian, migrasi kerja, dan absennya ayah secara emosional membuat jutaan anak tumbuh tanpa figur ayah. Studi ARRUS Journal (2024) menunjukkan hubungan signifikan antara fatherless dan perilaku agresif remaja. Journal of Abnormal Child Psychology (2001) menemukan absennya ayah berkaitan dengan meningkatnya perilaku antisosial. Annual Review of Sociology (2013) menyimpulkan father absence berdampak negatif pada pendidikan, kesehatan mental, dan stabilitas sosial-ekonomi anak. Fenomena mikro ini membesar menjadi makro: dari anak rapuh lahirlah masyarakat rapuh, dan dari masyarakat rapuh lahirlah bangsa yang mudah dikendalikan kekuatan eksternal.
Presiden Barack Obama pada 2010 meluncurkan Fatherhood and Mentoring Initiative. Pesannya sederhana: anak-anak tidak perlu ayah yang sempurna, mereka butuh ayah yang hadir. Inisiatif ini mengingatkan bahwa pemerintah harus berperan sebagai “ayah kolektif”: hadir dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi; memberi teladan moral; melindungi yang lemah. Tanpa itu, negara jatuh pada fatherless state — negara tanpa pemimpin sejati.
Kita tidak bisa menutup mata. Kasus meninggalnya Affan, seorang driver ojek online yang dilindas kendaraan taktis Brimob, menjadi cermin paling pahit. Ia bukan pejabat, bukan elit — hanya rakyat kecil yang mencari nafkah. Namun kematiannya justru menyingkap wajah negara yang kehilangan karakter seorang ayah: negara hadir dengan kekerasan, bukan perlindungan. Meninggalnya Affan menjadi trigger kemarahan rakyat. Gelombang protes merebak, kerusuhan sosial meluas, dan kepercayaan terhadap pemimpin runtuh. Seperti anak yatim yang kehilangan ayah, rakyat merasa tidak lagi punya pelindung. Inilah fatherless state: ketika rakyat kecil bukan dirangkul, melainkan dikorbankan.
Syariah menutup celah fatherless dengan sistem aplikatif:
Khalifah Umar bin Khattab memberi teladan nyata. Ia berkeliling malam hari memastikan rakyatnya tidak lapar, hingga berkata: “Seandainya seekor keledai tergelincir di Irak, aku takut Allah akan menanyakan mengapa aku tidak memperbaiki jalannya.” Inilah sosok ayah bangsa — pemimpin yang memikul tanggung jawab penuh atas rakyatnya.
Kita perlu bertanya: apakah hari ini bangsa ini masih punya “ayah”? Fenomena fatherless telah menjadi masalah struktural, bukan sekadar dinamika keluarga. Bangsa fatherless akan segera kehilangan arah. Maka harapan kita satu: semoga Allah menghadirkan kembali ayah bangsa — pemimpin sejati yang menuntun rakyat dengan iman, hikmah, dan teladan.