Sebuah muhasabah tentang umur, bekal, dan kesiapan pulang — dimulai dari sebuah perumpamaan sederhana: satu ransel, satu keberangkatan yang pasti datang.
Bayangkan suatu pagi kita mendapat kabar: gunung di dekat tempat kita tinggal menunjukkan tanda akan meletus. Wilayah harus dikosongkan. Besok pukul enam pagi kita harus pergi — dan hanya boleh membawa satu ransel.
Rumah mungkin akan hancur. Jalan tidak bisa dilalui kendaraan. Kita harus berjalan kaki, tidak tahu berapa jauh, tidak tahu berapa lama — bahkan mungkin tidak pernah kembali lagi. Apa yang akan kita lakukan?
Mungkin awalnya kita ingin membawa semuanya: surat-surat penting, pakaian, uang, makanan, barang kesayangan. Kalau punya emas, tentu terasa sayang meninggalkannya — apalagi emas 74 kilogram, sungguh sayang, pastinya sangat berharga. Tetapi sanggupkah kita memikulnya berjalan berpuluh-puluh kilometer?
Di situlah kita mulai memahami bahwa tidak semua yang berharga harus dibawa. Ada sesuatu yang sangat bernilai ketika kita tinggal di rumah, tetapi berubah menjadi beban ketika kita harus meninggalkannya.
Dan semakin dekat pukul enam pagi, pertanyaan kita pun berubah. Bukan lagi “Apa lagi yang bisa saya miliki?” — tetapi “Apa yang benar-benar perlu saya bawa?” Lalu setelah semuanya dimasukkan ke dalam ransel, biasanya muncul satu pertanyaan lagi:
Ada satu hal yang tidak perlu diperdebatkan dalam hidup: kita sedang menua. Hari ini lebih tua daripada kemarin. Besok, kalau Allah masih memberi umur, kita akan lebih tua lagi. Menjadi tua tidak memerlukan usaha.
Tetapi ada kekeliruan yang sering kita lakukan. Karena usia bertambah, kita merasa pengalaman juga bertambah. Karena pengalaman bertambah, kita merasa otomatis semakin dewasa. Dan karena semakin dewasa, kita merasa seharusnya semakin baik. Padahal belum tentu.
Maka pertanyaannya bukan “Sudah berapa lama saya hidup?” — tetapi “Setelah hidup selama ini, apa yang sebenarnya telah berubah dari diri saya?” Atau lebih tajam lagi: “Am I becoming better, or just older?”
Refleksi ini bermula dari kegelisahan: manusia begitu mudah melihat siapa yang salah dan siapa yang mengecewakannya, tetapi ketika pertanyaan diarahkan kepada dirinya sendiri, muncul begitu banyak alasan untuk membela diri. Mungkin itulah sebabnya muhasabah tidak mudah — karena untuk melakukannya, kita harus berhenti melihat keluar dan mulai berani melihat ke dalam.
Ada kata nafsun di sana. Diri. Bukan orang lain. Ini terasa sederhana, tetapi justru di sinilah persoalannya — kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk memeriksa “ransel” orang lain: Kok dia begitu? Kenapa dia melakukan itu? Kenapa negara begini? Kenapa pemimpin seperti itu? Kenapa teman saya tidak tahu berterima kasih?
Semua pertanyaan itu mungkin memiliki tempatnya. Tetapi dalam muhasabah, Allah seakan mengembalikan pandangan kita: Nafsun. Lihat dirimu.
Ibarat orang yang sedang bersiap mengungsi — lucu kalau kita sibuk memeriksa tas tetangga: “Lho, kamu kok bawa itu?” “Kok sepatumu begitu?” Sementara ketika ransel kita sendiri dibuka, isinya ternyata salah semua. Kita sibuk mengoreksi orang lain, padahal yang kelak dimintai pertanggungjawaban adalah diri kita.
Ayat itu berlanjut: mā qaddamat lighad — apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Bukan sekadar “Apa yang sudah saya lakukan?”, tetapi “Apa yang sudah saya persiapkan?” Dua pertanyaan itu tidak selalu sama. Kita bisa melakukan sangat banyak hal, tetapi ternyata sedikit yang benar-benar menjadi bekal.
Kalimat ini menggelisahkan, karena ternyata sibuk belum tentu berarti siap. Kita bisa sangat produktif — bekerja sejak pagi sampai malam, membangun karier, mengumpulkan kekayaan, mengejar jabatan, mengumpulkan penghargaan, membangun nama. Tetapi di penghujung perjalanan kita tetap harus bertanya: “Dari semua yang saya kumpulkan itu, mana yang sebenarnya bisa saya bawa?”
Jangan-jangan umur bertambah, peristiwa semakin banyak, aktivitas semakin padat — tetapi semuanya hanya membuat kita lelah tanpa menghasilkan bekal yang tepat.
Semakin memikirkan perumpamaan ini, semakin terasa bahwa muhasabah bukan hanya tentang menambah amal. Muhasabah juga tentang mengurangi beban.
Kembali kepada emas 74 kilogram tadi — emasnya tidak salah, emasnya tetap berharga. Tetapi perjalanan kita telah berubah. Maka pertanyaannya bukan lagi “Apakah ini berharga?”, melainkan “Apakah ini perlu saya bawa?”
Bisa jadi sebagian hidup kita habis bukan untuk menambah bekal, tetapi memikul sesuatu yang seharusnya sudah lama kita letakkan. Setelah ransel dipikul dan ternyata terlalu berat, kita harus berani membukanya kembali dan mengeluarkan yang tidak diperlukan. Barangkali demikian pula perjalanan menuju Allah: ada yang harus kita tambahkan, tetapi ada pula yang harus kita tinggalkan.
Ini mungkin pertanyaan muhasabah yang paling sederhana: apakah masih ada yang tertinggal?
Menariknya, ketika Al-Qur'an menggambarkan orang bertakwa dalam QS Ali 'Imran 3:133–136, di sana kita menemukan manusia yang berinfak ketika lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan ketika melakukan kesalahan segera mengingat Allah lalu memohon ampun. Seolah kita diberi beberapa contoh isi ransel.
Dan di atas semuanya terdapat sesuatu yang sangat kita butuhkan:
Karena setelah semua amal kita hitung, kita tidak sedang menuju Allah dengan kesombongan bahwa ransel kita sudah penuh. Kita menuju-Nya dengan berharap kepada ampunan dan rahmat-Nya.
Ketika masih muda, kita sering merasa perjalanan masih panjang — masih ada waktu mencoba, masih ada waktu salah, masih ada waktu memperbaiki. Dan memang usia muda adalah kesempatan luar biasa untuk belajar memilih bekal. Masa muda adalah golden period: masa untuk membangun mindset, belajar dari kesalahan, dan melatih kebiasaan yang kelak menentukan perjalanan berikutnya.
Tetapi semakin bertambah usia, ada kenyataan yang harus diterima: waktu persiapan semakin pendek. Kita mulai memasuki injury time. Pada fase seperti itu, mungkin bukan waktunya lagi sibuk menambah segala sesuatu — justru waktunya bertanya:
Dan mungkin yang paling penting: bagaimana hubungan saya dengan Allah hari ini?
Kembali kepada rumah di lereng gunung tadi. Bayangkan sekarang pukul lima pagi — satu jam lagi kita harus pergi. Pada saat seperti itu, kita tidak lagi tertarik memperdebatkan tas tetangga, juga tidak akan sibuk menghitung berapa banyak barang yang pernah kita miliki. Kita akan membuka ransel sendiri. Memeriksanya. Sekali lagi. Lalu mungkin sekali lagi. “Apakah masih ada yang tertinggal?”
Ada orang yang baru menyadari kekurangan bekalnya ketika perjalanan sudah dimulai. Justru orang yang terus memeriksa dirinya selama masa persiapanlah yang akhirnya dapat lebih tenang; sementara orang yang sebelumnya merasa semuanya sudah cukup justru menjadi gelisah ketika baru menyadari bahwa ia membawa bekal yang keliru.
Saya tidak tahu pukul berapa kehidupan saya sekarang. Anda pun tidak tahu. Mungkin masih sore. Mungkin tengah malam. Mungkin sudah menjelang Subuh. Dan kita memang tidak diberi tahu kapan tepatnya pukul enam itu akan datang. Tetapi selama Allah masih memberikan hari ini, berarti satu hal: kita masih diberi waktu untuk memeriksa ransel.
Menjadi tua itu pasti. Menjadi lebih baik harus diusahakan. Dan barangkali, muhasabah adalah keberanian untuk memeriksa bekal sebelum waktu keberangkatan tiba.